Tertipu Investasi Bodong Pablo Benua, Pieter Ola Merugi Rp500 Juta

13
Pablo Benua. (Foto: YouTube)

KritisNews.com,Jakarta – Terungkapnya kasus penipuan Pablo Benua membuat sejumlah korban angkat bicara. Salah satunya Pieter Ola, pria asal Kupang yang mengaku bekerjasama dengan Pablo setelah dikenalkan salah satu rekan bisnisnya.

“Jadi sejak 2016, rekan saya ini sudah lebih dahulu bergabung dengan perusahaan milik Pablo. Dia mengajak saya, karena memang saat itu ada niat saya untuk membuka cabang di Kupang. Terus terang, saya tertarik dengan sistem perusahaan yang dia tawarkan,” ujar Pieter Ola saat ditemui awak media di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, pada Senin (29/7/2019).

Pieter mengungkapkan, bentuk kerjasama yang dia jalin bersama Pablo Benua adalah bisnis penyewaan mobil. “Itu sistem hak guna pakai (HGP) untuk mobil. Jadi, cabang akan menjadi perpanjangan tangan pusat untuk memfasilitasi siapa saja yang ingin menggunakan HGP. Nanti, saya yang mendistribusikannya.”

Lebih lanjut Pieter menyebutkan, pengguna HGP harus membayar 54 persen dari nilai on the road (OTR) sebuah kendaraan. Misalnya, OTR sebuah kendaraan mencapai Rp100 juta, maka klien harus membayar sebesar Rp54 juta untuk HGP selama 3 tahun.

“Tahun pertama kami hanya perlu membayar 10 persen dari OTR. Kalau harga mobil Rp100 juta, maka kami cuma bayar Rp10 juta selama 3 tahun. Pada tahun ketiga deposit kami yang 54 persen tadi kembali. Artinya, selama 3 tahun itu kami hanya bayar Rp30 juta. Tertarik dong,” ungkap Pieter menambahkan

Sayang, keputusan Pieter Ola menjalin kerjasama dengan Pablo Benua berujung pahit. Beberapa bulan setelah bisnis berjalan, baru diketahui bahwa unit usaha Pablo masuk daftar investasi bodong yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kami coba menelusuri kembali. Ternyata, akta perusahaannya tak terdaftar Kemenkumham. SIUP dan NPWP juga tak terdaftar. Bahkan, KTP-nya juga palsu,” papar Pieter.

Imbasnya, Pieter Ola selaku salah satu pemilik cabang bisnis sewa mobil yang dinaungi Pablo Benua menderita kerugian hingga Rp500 juta. Bahkan jika dihitung secara keseluruhan, total kerugian bisa mencapai miliaran rupiah.

“Yang lapor kan ada empat orang: Kupang, Samarinda, Banjarmasin, dan Madiun. Nah, kerugian paling besar itu Madiun. Dia lepas lebih dari 20 mobil senilai Rp4 miliar. Jadi, kerugian dari empat cabang ini sekitar Rp5 miliar lah.”

Pada akhir keterangannya, Pieter mengungkapkan besaran itu hanya dari empat cabang yang melapor. Sementara perusahaan itu memiliki sekitar 30 cabang.*

(SIS)/(Sumber:Okezone.com)