Tengah Pandemi COVID-19, KKP Tetap Monitor Kondisi Ekosistem Mangrove dan Padang Lamun di TWP Kepulauan Anambas

44

KritisNews.com, Anambas – Berbagai ancaman kerusakan dan pencemaran yang melanda pesisir menjadi ancaman bagi ekosistem mangrove dan padang lamun. Kedua ekosistem tersebut telah lama dikenal sebagai penyerap karbon sehingga dapat mencegah pemanasan global. Selain itu juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi dan erosi, penahan gelombang, dan tempat memijah ikan.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru pada tahun ini tetap melaksanakan kegiatan rutin monitoring Ekosistem Mangrove dan Padang Lamun walaupun di tengah pandemi COVID-19 ini.

Saat dikonfirmasi Kantor Wilayah Kerja (wilker) Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas (TWP) Kepulauan Anambas di Jln. Desa Sri Tanjung, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Selasa (01/09/2020).

Begini keterangan Fajar Kurniawan, selaku Kepala LKKPN Pekanbaru mengatakan bahwa monitoring ekosistem mangrove dan padang lamun ini pelaksanaannya bersifat rutin sehingga kondisi ekosistem yang ada di kawasan konservasi dapat terpantau setiap tahunnya.

“Kegiatan monitoring ini harus tetap dilaksanakan sebagai bentuk dedikasi kami mengelola kawasan konservasi, tentunya dengan memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan covid-19”, ujar Fajar.

Sepanjang bulan Agustus, tim dari LKKPN Pekanbaru telah menuntaskan pengamatannya di 12 stasiun mangrove dan 4 stasiun lamun yang tersebar di Pulau Jemaja, Matak hingga Siantan sesuai dengan target waktu yang telah direncanakan.

Adapun lokasi monitoring mangrove dan lamun terletak di Desa Kuala Maras dan Desa Genting Pulur Kecamatan Jemaja Timur, Desa Temburun dan Desa Batu Belah Kecamatan Siantan Timur. Sementara wilayah Palmatak di Desa Air Nangak, Desa Air Asuk dan Teluk Siantan Kecamatan Siantan Tengah.

Tingginya gelombang dan hujan yang disertai angin tidak menyurutkan semangat tim dalam menuntaskan kegiatan ini. Berdasarkan pengamatan di lapangan, mangrove yang ditemukan berjenis Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Bruguiera gymnorrhiza. Sedangkan untuk jenis lamun yang banyak tumbuh adalah Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii.

Hilangnya transek permanen yang diduga sengaja diambil oleh oknum tertentu menjadi salahsatu kendala yang harus dihadapi tim sehingga tim harus kembali memasang transek permanen di antara rapatnya tutupan hutan mangrove.

Berdasarkan data pengamatan tahun 2019, ekosistem mangrove di dalam kawasan TWP Kepulauan Anambas mencapai 1.156,66 ha, dengan potensi stok karbon sebesar 205,91 ton/ha. Sedangkan untuk ekosistem padang lamun potensi stok karbonnya sebesar 135,91 ton/ha dengan luasan 125,49 ha.

Upaya konservasi untuk menjaga kedua ekosistem ini terus dilakukan oleh LKKPN Pekanbaru sebagai pengelola kawasan konservasi TWP Kepulauan Anambas. Dengan adanya monitoring rutin setiap tahun, diharapkan kondisi ekosistem mangrove dan padang lamun terus terjaga dan memberikan banyak manfaat untuk masyarakat pesisir.

“Mangrove dan lamun memiliki peranan penting dalam ekosistem dan juga kehidupan masyarakat pesisir. Saya berharap kondisi ekosistem mangrove dan lamun di TWP Kepulauan Anambas bertambah baik setiap tahunnya yang menandakan keberhasilan kami menjaga dan mengelola kawasan konservasi dan memberikan manfaat untuk masyarakat di sekitar kawasan.” ujar Fajar menyampaikan harapannya. ( Sumber Wilker TWP Kepulauan Anambas/Rohadi).