Paksa Anak Magang Lembur, Raksasa Toko Online Dikritik

8
Ilustrasi. Foto: Getty Images

KritisNews.com,JakartaFoxconn Technology Group dan Amazon.com Inc menuai kritikan dari serikat advokasi pekerja karena dugaan pemotongan upah dan melanggar undang-undang perburuhan di sebuah pabrik di China.

Ini bukan teguran pertama yang ditujukan pada mereka. China Labour Watch (CLW) tahun lalu juga mengkritik fasilitas tersebut yang memproduksi speaker Echo dan Kindle e-reader Amazon karena mengandalkan pekerja lepas, termasuk di dalamnya anak magang di bawah umur dan lembur di luar batas aturan hukum.

“Amazon dan Foxconn merespon bahwa mereka akan melakukan peningkatan untuk kondisi kerja pabrik,” ungkap CLW.

“Tetapi, investigasi CLW di tahun 2019 menemukan bahwa kondisi kerja Foxconn tidak mengalami peningkatan, malah memburuk,” sambungnya, dikutip detikINET dari The Star, Jumat (9/8/2019).

Upah pekerja yang dinyatakan masih terbilang rendah bahkan harus dipangkas hingga 16% di tahun 2019. Karena gaji tak sesuai, posisi pekerja penuh waktu untuk perusahaan tersebut masih banyak yang ‘bolong’ di mana seharusnya membutuhkan 7 ribu orang untuk mengoperasikan 58 jalur perakitan selama periode puncak produksi yang dimulai bulan Juli.

Untuk menutupi kekurangan itu, Foxconn dipercaya memberdayakan anak magang yang sekiranya masih berusia 16 tahun dari sekolah kejuruan, beberapa bahkan dipaksa untuk bekerja lembur.

Anak magang dilaporkan mendapatkan gaji sekitar USD 1,42 per jam atau sekitar Rp 20 ribu, turun dari sebelumnya yakni USD 1,58 atau setara dengan Rp 22 ribu per jamnya.

Dilansir Channel News, salah satu pekerja bernama Xiao Fang (17) mengatakan bahwa ia harus bekerja lima hari dalam seminggu, selama 8 jam per hari.

Akan tetapi dalam beberapa minggu, ia bekerja dua jam lebih lama dari ketentuan dan bahkan ia masuk 6 hari dalam seminggu. Ketika dia melapor pada manajernya, manajernya mengadu ke guru Fang. Ironisnya, guru Fang malah mengancam kelulusannya jika tidak mau terus bekerja.

Guru-guru dilaporkan mendapatkan subsidi sebesar USD 425 atau kira-kira Rp 6 juta lebih (dua kali lipat dari gaji pekerja), sementara sekolah mendapatkan USD 0,42 atau Rp 5.900 per jam dari setiap jam pekerjaan para anak magang.

Foxconn pun telah berbicara mengenai kasus yang dialamatkan pada perusahaannya. Mereka mengaku telah melakukan peninjauan fasilitas Hengyang dan menetapkan proporsi pekerja kontrak dan anak magang.

“Efektif dengan segera, persentase pekerja magang yang ditugaskan di fasilitas itu akan sepenuhnya mematuhi undang-undang perburuhan yang relevan,” kata Foxconn dalam sebuah pernyataan.

Pihaknya juga akan mengambil langkah untuk memastikan pekerja magang tidak lagi bekerja lembur di malam hari.

(rns/fyk)/(Sumber:Detik.com)

BAGIKAN